LO Profile di organisasi tempat saya bekerja

20 Jun

Saya sebagai Ketua Jurusan Teknik Elektro FT-UNJ merasa beruntung sekali karena Organisasi tempat saya bekerja di Fakultas Teknik UNJ mempunyai seorang pemimpin yang sudah menerapkan atau sudah mengusahakan terjadinya kondisi LO seperti teori LO dari Peter Senge dan Marquardt (Skor QUESTIONARY of Learning Organization Profile dari Organisasi tempat saya bekerja = 64).  Beberapa indikator yang terdeteksi ada di organisasi tempat saya bekerja, yang membuat saya menyimpulkan bahwa organisasi tersebut sudah mengarah ke LO, adalah :

  1. Proses perancangan atau pembuatan kegiatan tri dharma PT di Jurusan Teknik Elektro besarta besaran nilai pendanaannya diserahkan ke para ketua Jurusan di Lingkungan FT dengan bantuan staf PD2 FT untuk memastikan bahwa dana terserap 100%. Hal ini menunjukkan pada ada kepercayaan (yang menuntut tanggung-jawab) dari pimpinan tertinggi di Fakultas kepada bawahannya.
  2. Untuk memastikan bahwa struktur organisasi di tiap jurusan lebih efektif dan efisien, maka Ketua Jurusan dan Ketua Program Studi diberikan kebebasan untuk membentuk tim pendukung atau tim task force yang dapat diambil dari staf pengajar dan tenaga paruh waktu yang dibayar menggunakan dana Jurusan.
  3. Pimpinan FT menyerahkan struktur organisasi di level jurusan untuk dapat menentukan sendiri kegiatan yang akan dibuat di jurusan atau program studi untuk peningkatan kinerja terkait dengan tridharma PT dengan menggunakan semua sumber daya yang ada dan berkomitmen dan bertanggung-jawab terhadap pilihan yg telah dipilih.

Fakta 10 Hukum System Thinking dari “the Five Discipline” Peter Senge terdeteksi di Dunia nyata …

19 Apr

Hukum #1 “Masalah Hari Ini Datang dari Solusi Masa Lalu”
Permasalahan klasik yang umum dialami di unit-unit yang terdapat di Universitas Negeri Jakarta, mulai dari BAAK, BAPSI, PUSKOM, sampai di tiap-tiap program studi adalah rendahnya kinerja sebagian besar staf akademik, misalnya masalah yang terjadi di tempat saya bekerja di Jurusan Teknik Elektro FT-UNJ, beberapa staf pendukung mulai dari tenaga pesuruh, Teknisi, dan staf administrasi lainnya mempunyai kinerja yang buruk yang masih dari TUPOKSInya. Kinerja beberapa staf administrasi tersebut dapat diduga akan mempengaruhi strategi untuk pencapaian target-target kinerja organisasi sperti yang sudah ditetapkan di sasaran mutu di tahun 2014 (sesuai dengan ISO). Upaya-upaya untuk pengayaan, pelatihan, dan bahkan workshop untuk meningkatkan motivasi dan kerja-sama dalam sudah dilaksanakan tetapi hasilnya belum menunjukkan peningkatan kinerja yang berarti, sehingga salah satu jalan keluarnya adalah menerima tenaga paruh-waktu yang dibayar dengan POK Jurusan Teknik Elektro.
Secara kelembagaan, akar permasalahan dari lemahnya kompetensi staf akademik yang mempunyai karateristik yang sulit untuk diubah tersebut adalah dampak dari proses rekruitmen pegawai di IKIP Jakarta pada era tahun 1984 sampai dengan tahun 2001 yang diduga kuat penuh dengan nuasa “kekeluargaan” yang lebih mementingkan golongan sendiri atau lebih lebih suka mencarikan pekerjaan bagi keluarganya (yang mempunyai kompetensi yang tidak sesuai dgn kompetensi yang dibutuhkan di IKP Jakarta saat itu), sehingga staf akademik hasil rekruitmen masa lalu saat ini menjadi PNS atau staf akademik yang bergolongan tinggi dan harus menjadi pemimpin (struktural) di unit-unit yang ada di UNJ. Pengambil kebijakan di UNJ akan menghadapi dilema saat harus memilih yang terbaik dari karyawan2 hasil rekuritmen masa lalu yang mempunyai kompetensi tdk tepat dibandingkan dengan memilih karyawan PNS yang golonganannya masih rendah tapi mempunyai kompetensi yang seseuai dengan jenis jabatannya. Rekruitmen PNS di UNJ mulai tahun 2001 sampai saat ini sudah relatif mementingkan kompetensi calon PNS sehingga diharapkan dapat memperbaiki kinerja organisasi ditempat mereka ditempatkan dan secara lembaga diharapkan dapat meningkatkan citra UNJ.

Hukum #2 “Semakin Keras Anda Menekan, Semakin Kencang Sistem Mendorong Kembali”
Untuk membantu mahasiswa Jurusan Teknik Elektro FT-UNJ mendapatkan informasi-informasi tambahan terkait dengan proses transfer knowlegde via internet, di setiap lantai (ada empat lantai di Gedung L Jurusan Teknik Elektro FT-UNJ) terdapat 2 (dua) buah access point atau HoT Spot atau WiFi yang di share dengan bebas selain Hot Spot yang sudah disediakan oleh PPTI UNJ (mhs harus mendaftar ke PPTI untuk dapat mengakses layanan tersebut). Mahasiswa Jurusan Teknik Elektro awalnya merasa senang dengan layanan Hot Spot di JTE dan banyak yang menggunakannya untuk browsing dan download file-file yang ada atau tidak berhubungan ke bahan-bahan kuliah. Dengan semakin banyaknya mahasiswa di JTE yang membawa notebook dan atau Netbook yang digunakan untuk mengakses layanan Hot Spot tersebut, maka mulai muncul persaingan dalam mendapatkan bandwitdh saat donwload sehingga 1 (satu) orang mahasiswa (pada awalnya) mulai menggunakan program NetCut untuk mematikan MAC address netbook atau notebook pengguna layanan Hot Spot di JTE sehingga hanya notebook atau netbook miliknya sendiri yang dapat mengakses internet via Hpt Spot. Kegiatan satu orang mahasiswa yang sesat tersebut pada akhirnya diketahui oleh mahasiswa yang lain sehingga ada lebih dari 1 (satu) mahasiswa yang menggunakan program NetCut di jaringan Hot Spot milik JTE. Persaingan menjadi lebih seru lagi saat mahasiswa sudah mencari solusi untuk dapat menangkal program NetCut dengan menginstall program AntiNetCut yang beberapa minggu kemudian terdeteksi beberapa notebook atau netbook yang menggunakan program Anti AntiNetCut. Semua kegiatan mahasiswa pengguna layanan internet via HotSpot di JTE (yang sesat tersebut) tidak lepas dari monitoring pihak jurusan dan setelah di adakan evaluasi terhadap layanan inetrnet via HotSpot di JTE, maka pihak jurusan merubah setting tiap HotSpot sehingga tiap notebook atau netbook hanya dapat terkoneksi dengan internet via HptSpot hanya selama 5 menit saja dan kemudian putus. Kebijakan tersebut ternyata hanya dapat bertahan selama 4 minggu untuk kemudian didapati ada beberapa mahasiswa yang dapat menembus password HotSpot untuk kemudian merubah setting sehingga hanya notebook mhs tersbut saja yang dapat mengakses layanan internet. Setiap jurusan TE melakukan langkah-langkah untuk mengkondisikan supaya semua mhs mendapat akses internet yang sama di jurusan ternyata mendapat perlawanan dalam bentuk “fraud” atau mencari celah-celah dari sistem untuk melakukan kecurangan demi kepentingan diri sendiri. Tindakan terakhir yang dilakukan oleh pihak jurusan adalah membuat kebijakan bahwa akses internet via HotSpot di JTE hanya diperuntukkan untuk dosen dan staf adminstrasi dengan melakukan filter MAC Address yang pada akhirnya membuat mahasiswa JTE tidak mendapat akses internet via HotSpot milik JTE.

Hukum #3 “Perilaku Tumbuh Lebih Baik Sebelum Tumbuh Lebih Buruk”
Beberapa tahun yang lalu pernah diberitakan telah ditemukannya varian atau hasil persilangan dari beberapa jenis padi yang jika ditanam di tanah dengan luar 1 hektar dapat mempunyai masa tanam 3 (tiga) bulan tetapi dapat menghasilkan gabah kering sampai sekian ton per hektar yang melebihi hasil panen jenis bibit padi yang sudah direkomendasikan oleh Departemen Pertanian. Pada awalnya bibit padi yang diproduksi oleh sebuah perusahaan telah banyak diminati atau dibeli oleh para petani yang memang khusus menanam padi walau pun Departemen Pertanian sudah mengingatkan bahwa padi tersebut belum layak untuk disebarkan karena belum lolos uji bibit padi sampai keturunan ke tiga dan ke empat.
Kekawatiran Departemen Pertanian ternyata terbukti setelah para petani menanam padi hasil keturunan ke 3 yang saat ditanam ternyata menghasilkan gabah padi yang total per 1 hektarnya < 1 ton sehingga akhirnya jenis padi yang ditawarkan ke petani tidak ada yang membelinya.

Hukum #4 “Jalan keluar yang Mudah Biasanya akan Mengarah pada jalan kembali”
Seseorang yang sedang mempunyai masalah obesitas biasanya melakukan usaha dan upaya yang sederhana yang dianggap dapat menurunkan berat badannya dengan cara tidak makan nasi di pagi hari (untuk orang yang mempunyai budaya makan pagi) dan menggantinya dengan makanan kecil sperti crackers rasa ayam atau yang sejenisnya. Solusi yang dianggap mudah dan tepat tersebut berakibat lebih buruk bagi kesehatan orang tersebut karena jumlah kalori dari makanan yang dikonsumsi sebagai pengganti makan pagi yang biasa dilakukannya akan lebih banyak dan diduga menimbulkan kelebihan asupan garam yang berakibat menaikkan tekanan darah. Hasil dari usaha yang dilakukan setelah beberapa minggu berakibat bertambahnya berat badan manusia tersebut.

Hukum #5 “Obatnya Bisa Lebih Buruk daripada Penyakitnya”
Seorang guru (misalnya guru SMK Negeri di Jakarta) dituntut untuk mempunyai beberapa kompetensi termasuk kompetensi pedagodie. Kemampuan guru dalam merencanakan pembelajaran di kelas, misalnya seorang guru harus dapat membuat SAP untuk suatu mata pelajaran yang diampunya berdasarkan Silabus yang sudah ada. Kegiatan yang dibuat oleh Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta dan juga melalui MGMP (Musyawaran Guru Mata Pelajaran) secara teratur dilakukan untuk meningkatkan kompetensi guru-guru SMK Negeri dibidang pembuatan SAP. Di dalam kegiatan tersebut, guru-guru diberikan banyak contoh-contoh silabus dan SAP yang lengkap berisi Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, Indikator, sampai dengan soal-soal evaluasi dari Mata Pelajaran yang sesuai dengan yang diampunya di sekolah, sehingga guru-guru tinggal menggunakannya di satuan pendidikannya.
Secara tidak sadar, pemerintah daerah dalam hal ini Dinas Provinsi DKI Jakarta, telah mengkondisikan sebagian besar guru-guru SMK Negeri menjadi tidak berpikir secara sistem. Guru-guru menjadi lebih pasif dan tidak mempunyai kreatifitas untuk membuat atau mengembangkan SAP sesuai dengan teori tetapi lebih bersifat menunggu contoh yang diberikan di MGMP atau dari Dinas Pendidikan. Kreatifitas guru-guru tersebut semakin ditutup oleh Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah yang menyalahkan guru jika membuat Silabus dan atau SAP yang berbeda dari contoh yang diberikan oleh Dinas. Secara singkat, kegiatan2 yang diadakan oleh Dinas Pendidikan di tingkat provinsi dibuat dengan tujuan untuk menyamakan persepsi guru-guru tentang silabus dan SAP tetapi berdampak matinya kreatifitas guru-guru dalam membuat dan mengembangkan silabus dan SAP di satuan pendidikannya dan hal tersebut adalah masalah yang lebih berbahaya dibandingkan jika silabus dan atau SAP untuk suatu mata pelajaran berbeda-beda di tiap satuan pendidikan.

Hukum #6 “Semakin Cepat Justru Semakin Lambat
Sebuah inovasi untuk mempercepat masa studi mahasiswa D3 (yang menerima hibah PHK A2 dari Dikti) berupa kegiatan dengan judul “percepatan masa studi mahasiswa” diusulkan dalam sebuah program hibah kompetisi (PHK A2) di Dikti”. Kegiatan tersebut dilakukan dengan cara memberi insentif, berupa dana kompensasi, bagi dosen pembimbing Tugas Akhir mahasiswa D3 dan direncanakan akan dikerjakan selama program studi tersebut mendapat Hibah PHK A2. Teknik pelaksanaan kegiatan tsb adalah jika seorang dosen dapat mengkondisikan mahasiswa bimbingannya dapat menyeleseikan penulisan Tugas Akhirnya dalam waktu < 6 bulan dan dapat di wisuda, maka dosen pembimbing tersebut akan mendapat dana kompenasasi. Dampak langsung bagi organisasi atau prodi D3 yang mendapat Hibah PHK A2 tersebut adalah dapat menurunkan lama masa studi mahasiswa dari minimal 6 (enam) semester menjadi dapat di bawah 6 (enam) semester. Kegiatan tersebut disambut positif oleh dosen pembimbing TA dan hasilnya pada tahun I (prodi D3 tsb mendapat bantuan dana hibah) dapat membuat proses penulisan TA menjadi di bawah 6 bulan. Selama bantuan hibah sampai tahun III pelaksanaan PHK A2, masa studi mahasiswa di Prodi D3 tersebut dapat ditekan di bawah 3 tahun.
Keadaan suasana akademik yang diduga sudah kondusif selama pelaksanaan hibah tersebut di atas diharapkan dapat berlanjut di tahun IV saat bantuan dana dari PHK A2 selesei, tetapi faktanya setelah dana kompensasi bagi dosen pembimbing TA mahasiswa D3 dihentikan waktu mahasiswa untuk menyeleseikan Tugas Akhirnya bukan di bawah 6 (enam) bulan tetapi lebih dari waktu tersebut. Tahun II setelah PHK A2 berakhir kinerja organisasi menjadi lebih buruk lagi karena dosen-dosen pembimbing TA mahasiswa sudah kembali ke “bentuk semula” yaitu kembali membimbing mahasiswanya dengan seenaknya. Kaprodi sudah berupaya untuk mencari dana lain sebagai pengganti kompensasi (sperti saat mendapak dana bantuan hibah), tetapi karena POK-nya tidak ada mengakibatkan masa studi mahasiswa D3 menjadi lebih lama dibandingkan saat sebelum mendapatkan bantuan dana hibah.

Hukum #7 “Sebab dan Akibat tidak begitu erat Berkaitan dengan waktu dan ruang”
Seorang ustadz besar yang berdomisili di Indonesia yang sudah dikenal luas dan mempunyai pendapatan mencapai sekian ratus juta rupiah dalam satu tahun banyak dan juga mempunyai penggemar atau pengikut (yang sebagian besar kaum wanita) yang bukan hanya berasal dari negara Indonesia tetapi juga di negara Malaysia ternyata kondisinya berubah 180⁰ saat ustadz tersebut memiliki istri lebih dari satu orang. Tetapi walau pun jumlah penggemar dan pengikutnya menjadi jauh lebih sedikit tetapi jumlah pendapatan yang dihasilkan oleh kegiatan-kegiatan Ustadz tersebut mempunyai jumlah yang sama saat masih mempunyai istri satu orang. Penggemar atau pengikut Ustadz tersebut berubah dari yang sebagian besar wanita menjadi berubah menjadi sebagian besar pria yang mempunyai strata sosial menengah ke atas yang mempunyai kecederungan mempunyai istri lebih dari satu orang. Sehingga banyak permintaan ceramah atau pemberian nasehat keagamaan dari pria-pria kaya baik di Indonesia mau pun di Malaysia meminta materi ceramah atau substansi ceramahnya adalah dasar hukum mengapa seorang pria dapat memiliki istri lebih dari satu orang.

Hukum #8 “Perubahan Kecil Dapat Menghasilkan Hasil yang Besar”
Saya pernah diberi kesempatan oleh pimpinan saya untuk melakukan riset di Perusahaan Panasonic Gobel di Jakarta Timur selama 2 minggu dengan tujuan untuk membuka wawasan saya, sebagai staf pengajar di Mata Kuliah Televisi dan Video, di Industri yang terkait dengan Jurusan Teknik Elektro FT-UNJ. Di perusahaan Panasonic Gobel tersebut mempunyai kebijakan bahwa semua karyawan yang baru diterima (minimal lulusan S1 Teknik Elektro lulusan dalam dan luar negeri) diwajibkan untuk menjadi Customer Service atau Sales Representatif selama 6 bulan di Bagian penerimaan produk buatan Panasonic yang rusak di Service Centre dan di tempat-tempat penjualan produk buatan Panasonic.
Tujuan dari diwajibkannya semua pegawai baru Panasonic untuk menjadi Customer Service dan Sales Representatif bukan di bagain R&D adalah untuk mengetahui semua masukan dari pelanggan yang menggunakan produk Panasonic. Di bidang elektronik, perubahan keinginan atau kebutuhan di sisi konsumen akan berdampak negatif jika produk Panasonic tidak mengikuti pasar, sehingga dengan kebijakan yang kelihatan kecil tersebut ternyata dapat menghasilkan dampak yang besar di sisi produk Panasonic yang, untuk Televisi, menempati angka penjulan tertinggi di negara Indonesia.

Hukum #9 “Anda Bisa Memiliki Kue Anda dan Memakannya Juga, tetapi Tidak Sekaligus”
Sebuah organisasi seperti perusahaan tempat saya pernah bekerja dulu adalah sebuah pabrik yang menerima pesanan Power Supplay untuk peralatan elektronik. Owner atau Direktur perusahaan tersebut adalah warga negara Malaysa yang menggunakan bahasa Inggris dengan logat Hokian dengan sedikit bahasa Indonesia saat berkomunikasi dengan manajer, supervisor, teknisi, dan operator selama jam kerja. Karena sebagian besar operator adalah orang asli Bogor dan skitarnya, yang hanya lulusan SMA atau SMK, maka untuk membuat para operator tersebut dapat berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris dengan para manajer produksi dan supervisor perlu dibuat suatu sistem yang dapat secara tidak langsung membuat seluruh karyawan di pabrik untuk belajar secara praktis bahasa inggris dengan cara mewajibkan semua karyawan menggunakan bahasa inggris di wilayah tertentu. Pada awalnya tidak ada karyawan yang lewat di lokasi “zona berbahasa inggris” tersebut tetapi setelah beberapa bulan kebijakan penggunaan bahasa inggris wajib dilakukan pada tiap hari kamis.
Saat saya keluar dari perusahaa tersebut pada tahun 1993, sebagian besar karyawan di line produksi sudah terbiasa menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa untuk percakapan dengan manajer atau supervisor yang berasal dari luar negara indonesia atau bahkan sesama WNI mereka sudah tdk canggung jika menggunakan bahasa inggris selama di lingkungan pabrik.

Hukum #10 “Membelah Seekor Gajah Menjadi Dua Tidak Menghasilkan Dua Ekor Gajah Kecil”
Terdapat 3 (tiga) prodi (serumpun) di Jurusan Teknik Elektro FT-UNJ yang mempunyai permasalahan yang sama yaitu mahasiswa lulusannya rata-rata menyelesaikan studinya di atas 8 semester. Sebagai Ketua Jurusan, untuk membantu Kaprodi-kaprodi tersebut membuat solusi untuk menurunkan lama masa studi di JTE adalah dengan cara menyatukan ke tiga kaprodi untuk bersama-sama mencari akar permasalahan yang menjadi penyebab lama studi mahasiswa di atas 8 semester. Cara tersebut lebih baik dibandingkan dengan membiarkan ketiga kaprodi tersebut mencari solusinya sendiri-sendiri. Dalam sebuah organisasi pendidikan sperti sebuah Jurusan, maka masalah yang terjadi di sebuah program studi tidak dapat ditemukan solusinya di program studi tersebut tetapi ada kemungkinan masalah atau solusinya berasal dari luar prodinya. 3 (tiga) prodi di JTE mempunyai interaksi antara satu dengan yang lain yang meliputi dosen, karyawan, sarana dan pra-sarana, sehingga tidak dapat dipisahkan menjadi 1 (satu) sistem yang berdiri sendiri. (Wisnu Djatmiko)

Contoh penerapan Hukum #2 System Thinking … Melubangi dan menutup Pagar

16 Apr

…ada pagar yg membatasi sebuah pasar tradisonal, namanya Pasar Ciplak di daerah Trikora Halim PK, dan untuk memudahkan penduduk di luar kompleks Halim PK mengakses pasar tersebut maka penduduk membuat lubang di pagar tersebut. Otorita komplek Halim PK, biasanya, selalu cepat untuk segera menutup lubang di pagar tersebut dengan kawat yang lebih besar diamaternya, sehingga kegiatan melubangi dan menutup pagar menjadi kegiatan yang rutin saya lihat selama saya menjadi penduduk di kompleks Halim PK. yang menjadi pertanyaan saya saat itu adalah pihak manakan yang konsisten? penduduk yang melubangi pagar atau otorita kompleks Halim PK yang selalu konsisten? Jawaban dari pertanyaan tersebut akhirnya secara konsep teori dapat saya peroleh dengan memahami Hukum System Thinking Peter Senge yg ke 2 yaitu Kian kuat anda mendorong, kian kuat sistim melawan dorongan anda …

Penyebab tutupnya Pabrik Rokok Cap Grendel pada tahun 1990

12 Apr

Pabrik rokok (PR) cap Grendel didirikan oleh keluarga Sarwa Martani di Kota Malang  Jawa Timur pada tahun 1948, bersamaan dengan didirikannya PR Bentoel (juga di Kota Malang), di daerah Kedaung dengan luas pabrik sampai 16.000m2.  PR Cap Grendel menggunakan tenaga manusia untuk menghasilkan 4 (empat) jenis produk rokok kretek yang diberi nama Grendel Jaya, Grendel Anda, Grendel Ombak, dan Grendel International. Produk rokok kretek tersebut dijual di 3 (tiga) daerah , yaitu : sumatera selatan, kalimantan tengah, dan pulau Madura.  PR cap Grendel, dengan 4 (empat) jenis produk rokok kreteknya sempat menduduki PR terbesar ke dua di Provinsi Jawa Timur (di bawah PR cap Bentoel) pada era tahun 1972 s.d. 1976.

Pada tahun 1976, PR cap Grendel mengajukan pinjaman dana ke Bank Bumi Daya (BBD cabang Kota Malang) untuk membeli mesin pencetak rokok (seperti yang sudah dilakukan oleh PR cap Bentoel) tetapi pinjamannya tidak dapat dilunasi sehingga semua aset dari PR cap Grendel di sita oleh BBD dan kemudian dijual ke PT Karya Niaga Bersama (PT. KNB) yang kemudian PR cap Grendel meraih keuntungan pada era tahun 1982 s.d. 1986.  Produksi PR cap Grendel sempat mencapai  350 juta batang rokok (pada tahun 1989) dengan jumlah 800 orang karyawan dan menyumbang cukai rokok ke negara sebanyak Rp. 989jt dan PPn sebesar Rp. 500jt.

Keuntungan atau masa jaya PR cap Grendel pada era tahun 1982 s.d. 1989 ternyata membuat manajemen PT. KNB menjadi tidak dinamis terhadap tuntutan konsumen yang mengalami perubahan besar dengan berubahnya konsumen (mulai dari tahun 1972 s.d. 1989) yang menganggap menghisap rokok dapat merubah status mereka dan juga mulai diterimanya rokok filter (yang tidak diproduksi oleh PR Cap Grendel) di negara Indonesia. Sementara di tahun 1989 di kota Malang terdapat 26 PR yang menjadi pesaing PR cap Grendel dan di negara indonesia  terdapat 3 (tiga) PR yang menjadi pesaing berat dari PR cap Grendel yaitu : PR  Gudang Garam, PR Djarum, dan PR Bentoel yang sangat agresif merebut konsumen di kalangan bawah sampai atas dengan area penjulan di seluruh nusantara dan internasional.

Mulai tahun 1989 sampai dengan 1990 penjualan rokok yang dihasilkan PR cap Grendel mengalami penurunan karena tidak dapa bersaing dengan 3 PR Besar di Indonesia, sehingga pada tanggal 19 Januari 1990, semua saham PT. KNB di PR cap Grendel dibeli oleh PR Gudang Garam (kantor pusat di kota Kediri Jawa Timur).

Daftar 17 produk rokok yang diproduksi PR Bentoel adalah : Slim Biru, International, Sensasi, Klasik, Merah, Star Mild, Neo Mild, Club Mild, Unoi Mild, Sejati, Bintang Buana, Joged, Rawit, Prins1p, Country, Tali Jagat, Ardath. Daftar 16 produk rokok yang diproduksi PR Gudang Garam adalah : International, Surya 12, Surya 12 Gold, Surya 16, Surya 16 Exclusive, Surya Slims, Surya Signature, Surya Profisional, Surya Pro Mild, GG Nusantara, GG Nusantara Mild, GG Djaya, Nusa, Taman Sriwedari, Sigaret Kretek Filter Klobot. Daftar 41 produk rokok yang diproduksi PR Djarum adalah : Dj Super, Dj Super CS, DJ Super Mezzo, DJ Super Mild, Djarum Coklat, Dj Coklat Extra, Dj Istimewa, Dj 76, Dj 76 Filter Gold, Dj Black, Dj Black Slimz, Dj Black Mentol, Dj Black Cappucino, Dj Black Tea, Dj Vanilla, Dj Splash, Dj Original, Dj Hayy, Dj Menthol, Dj Special, Dj Cigarillos, LA Lght, LA Menthol Lights, Inspiro, Dos Hermanos, Gold Seal, Envio Mild, IN Mild, In Mild Menthol, Score Mild, Geo Mild, Slic Mild, Ten Mild, Marlboro, Marlboro Lights, Marlboro Menthol Lights, Marlboro Black menthol, Salem, Benson&Hedges, West, Super Ten Mild.

Organisasi di PR Cap Grendel diduga tidak belajar bagaimana untuk dapat survive atau bertahan di era tahun 1980an, setelah mengalami masa-masa kejayaan antara tahun 1976 s.d. sebelum 1989, sehingga produk rokok yang dihasilkannya tidak diminati oleh konsumen yang berubah, misalnya masuknya rokok filter pada era tahun 1980 mulai banyak diterima masyarakat dibanding rokok kretek. Konsumen rokok dari jaman ke jaman mengalami perubahan keinginan akan rasa, aroma, dan “value” dari rokok yang dihisapnya (Wisnu Djatmiko, Ina Yuniati, Helen Purwatiningsih)

Hallo …

6 Dec

Selamat datang di halaman Blog saya.  Saya Wisnu Djatmiko